Polresta Sidoarjo Ungkap Kasus Pornografi

TRIBRATANEWS POLRESTA SIDOARJO-Jajaran Satuan Reskrim Polresta Sidoarjo berhasil mengungkap lima kasus dalam bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Kelima kasus itu diantaranya, guru ngaji sebar foto syur mantan kekasihnya melalui facebook dan media sosial (medsos), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), trafficking (perdagangan manusia), pijat plus-plus dan pencabulan anak tiri oleh orangtuanya.

“Dalam kasus-kasus tersebut ada 5 tersangka yang kami amankan,” terang Kasat Reskrim Polres Sidoarjo Kompol Manang Soebeti, Senin (17/01/2017).

Kompol Manang Soebeti menguraikan kasus penyebaran foto syur mantan kekasih dengan tersangka Firman NS (21) warga Jl Laos, Kelurahan Ngegong Kecamatan Manguharjo Kota Madiun.

Sedangkan korbannya Bunga (16) mantan kekasih dan sekaligus mantan murid ngaji tersangka. Tersangka yang tak mau hubungan asmaranya berakhir mengancam akan menyebar foto syur korban melalui facebook (FB) dan medsos lainnya.

“Foto-foto korban tersebut sudah disebarkan lewat FB dan Medsos sejak sebulan lalu. Tersangka kami jerat pasal 29 dan atau pasal 37 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi jo pasal 45 ayat 1 UU RI No 11 Tahun 2008 tentang UU ITE dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” imbuhnya.

Sedangkan kasus lainnya, lanjut Manang adalah pencabulan anak tiri usia 10 tahun yang dilakukan tersangka H (40) warga Desa Sedati Agung, Kecamatan Sedati. Tersangka dilaporkan istri keduanya yang tak lain ibu kandung korban. Namun sebelumnya anak kandung tersangka dari istri pertama juga dicabuli hingga ia diceraikan istrinya itu.

“Tapi yang kasus anak kandungnya tidak dilaporkan ke polisi. Baru kasus anak tirinya yang dilaporkan. Tersangka kami jerat pasal 81 dan 82 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Jadi kasus persetubuhan dan pencabulan,” jelas Kompol Manang.

Sementara kasus lainnya, penganiayaan anak kandung karena sering main game oleh tersangka PN (40) warga Jl Raya Pabean Kecamatan Waru. Tersangka memukul dan membanting korban PS (10). Atas perbuatannya itu, ia dijerat pasal 44 ayat 1 UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Selain itu, kasus pijat plus-plus dengan tersangka AA (34) warga Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono. “Anak buah saya banyak, tapi freelance. Jadi begitu ada pesanan ya dipanggilkan begitu saja,” katanya.

Kasus terakhir soal trafficking dengan tersangka FK (34) warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran. “Modusnya ia menyediakan perempuan seharga Rp 1,5 juta. Mucikari ini dapat Rp 700.000-an sekali transaksi,” pungkas Kompol Manang Suebeti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*