Ungkap Perkara Bulan Juli 2016 Meningkat, Sat Resnarkoba Gencar Berantas Narkoba

Resnarkoba

TRIBRATANEWS POLRES SIDOARJO-Ungkap perkara kasus narkoba di wilayah hukum Kepolisian Resort (Polres) Sidoarjo selama periode Juli 2016 ini, meningkat dari bulan sebelumnya. Sebagai acuhannya, berbagai upaya terus dilakukan aparat kepolisian untuk mempersempit ruang gerak pelaku peredaran narkoba di Kota Delta.

Salah satunya dengan melakukan penindakan lebih tegas. Kendati begitu, cara tersebut diharapkan bisa membuat para pelaku pengedar narkoba jerah dan berpikir dua kali ketika menjalankan aksinya. Berdasarkan catatan Satreskoba Polres Sidoarjo jumlah ungkap perkara yang ditangani periode Juli 2016 mengalami peningkatan tajam. Termasuk barang bukti yang disita pun juga meningkat.

“Dampak peredaran narkoba saat ini  sangat meresahkan dan lebih memprihatinkan bagi sebagian masyarakat,” ujar Kasatreskoba Polres Sidoarjo AKP Redik Tribawanto kemarin (22/8).

Dipaparkan, Polres Sidoarjo menangani 14 perkara selama periode Juni 2016. Jumlah tersebut belum termasuk ungkap perkara dari Polsek jajaran. Satu bulan berselang kasusnya bertambah menjadi 17 perkara, dengan jumlah tersangka 21 orang

Kasat Resnarkoba menjelaskan, dari 17 kasus yang terungkap selama periode Juli 2016, Polres Sidoarjo mengamankan 32,21 gram sabu-sabu (SS) dan 20 ribu butir pil dobel L. Sedangkan, barang bukti yang disita selama periode Juni adalah 44,77 gram SS dan 1.300 butir pil koplo.

Menariknya, salah satu perkara pada bulan Juli adalah tertangkapnya Anas Sazali. Pemuda asal warga Desa Panggreh, Jabon ini diringkus Polisi saat hendak mengirim pesanan kepada sesorang di Desa Permisan, dengan total jumlah barang bukti SS ditemukan seberat 8,18 gram. “Waktu itu, kita pergoki pelaku saat melintas di jalan raya desa setempat,” ujarnya

Kasat Resnarkoba Polres Sidoarjo AKP Redik Tribawanto menerangkan bahwa upaya menekan peredaran narkoba bukannya tanpa kendala masalah. Sebab, yang biasa dihadapi adalah banyaknya bandar yang mengedarkan barang haram tersebut dengan sistem ranjau. Jika sudah begitu, lanjut dia, anggota harus mengandalkan jaringan informasi dan melakukan pengawasan lebih. “Tersangka baru bisa diamankan dengan barang bukti. Makanya, kami harus bisa memastikan target operasi benar-benar bersama barang bukti,” ujar Kasat Resnarkoba.

Ditambahkan, selama ini tidak jarang Polres Sidoarjo menangkap tersangka yang sebelumnya sudah pernah di proses hukum. Penjara menurutnya seakan hanya menjadi wadah bagi mereka untuk naik kelas.

“Motifnya karena kecanduan. Sehingga untuk lepas dari kebiasaan tersebut mereka kesulitan. Tak jarang dari mereka yang diamankan, awalnya hanya sebagai pengguna, selanjutnya ditangkap karena mengedarkan,” tukas dia.

Dari beberapa pengalaman setelah ungkap perkara tersebut, pihaknya menilai tindakan represif bukanlah jalan terbaik dalam memberantas peredaran narkoba. Namun, upaya pencegahan harus lebih diutamakan agar tidak semakin banyak orang yang bersinggungan dengan narkoba.

“Terbukti kebanyakan dari mereka awalnya coba-coba. Namun, akhirnya kecanduan. Nah, pengaruh ini yang harus dihindari. Karena itu, kegiatan sosialisasi harus digalakkan lagi agar masyarakat lebih paham bahaya narkoba,” tandasnya.